Minggu, 04 Maret 2012

OJO DUMEH


Sebuah pitutur pinisepuh yang maknanya dalam sekali. Memaknai pitutur tersebut diperlukan kesadaran pikir dan kerendahan ego. Mencoba menilai dengan jujur siapa diri kita bagi diri sendiri, siapa diri kita bagi orang lain, siapa diri kita bagi tatanan masyarakat, siapa diri kita bagi tatanan negara, siapa diri kita bagi tatanan bangsa-bangsa di dunia dan siapa diri kita saat berhadapan dengan sang Pencipta...sang penguasa jagad...Alloh SWT..Robbussamawati wal ardlo.........

Sudah menjadi watak, tabiat, rasa ingin, atau sesuatu yang menjadi kelangenannya akan nilai-nilai kemapanan, kemakmuran, kesejahteraan dan segala yang serba mengenakkan hidup. Segala cara, metode, usaha dan kerja keras dilakukan hanya demi mencapai tujuan semua itu. Kemakmuran...kesejahteraan...kemapanan...kedigdayaan...kewibawaan...adalah dambaan setiap manusia.

Bagi sebagian orang yang berhasil menggapai keinginan hidup dan telah mendapatkan "harapan/hasil" dari kerja kerasnya tentu terkadang ada "rasa" bangga akan kesuksesannya. Perasaan "akulah sang pemenang...I'am the winner..." terkadang muncul dan mewarnai kehidupannya.Tidak terkecuali melanda siapa saja. Pelajar, mahasiswa, pegawai, wiraswasta, pejabat negara, menteri bahkan presidenpun. Dihinggapi rasa bangga. Kadang bisa berlebihan. Anehnya sikap ini secara tidak sadar terkadang memunculkan sikap "meremehkan" kawan maupun saingan dalam mencapai kesuksesannya. Manusiawi.

Rasulullah Saw, seorang manusia yang berakhlak mulia yang menjadi manusia pilihan Alloh untuk memperbaiki akhlak manusia sejak ribuan tahun yang lalu sudah mengingatkan agar hidup di dunia jangan sampai bersikap takabur, sombong, "SOK" yang dalam pitutur jawa disebut "OJO DUMEH". Bahkan Alloh SWT sendiri paling tidak senang dengan hambanya yang memiliki sifat sombong, takabur, "sok". Rasanya tidak pantas, pamali, kita bersombong ria dengan setitik kemapanan yang kebetulan telah kita peroleh. Naif...kekanak-kanakan...tidak dewasa...

Ojo dumeh banyak harta sehingga engkau menginjak-injak harga diri karyawan, pembantu, bawahan dan orang-orang yang berhubungan denganmu...
Ojo dumeh jadi pelajar dan mahasiswa yang telah dicekoki ilmu pengetahuan canggih, iptek, informasi teknologi modern, biokimia, statistik, kalkulus, riset, desertasi, rancangan percobaan, managemen, akuntansi, dan seabreg ilmu sehingga engkau meremehkan orang tuamu, engkau hina orang tuamu, engkau sia-siakan orang tuamu, engkau sisihkan orang tuamu dari pergaulan di komunitasmu, engkau rendahkan orang tuamu yang buta huruf, orang tuamu yang kau anggap "bodho", gaptek, tak mengenal blackberry, nokia, samsung,i-pod, prosessor core duo yang pegang mouse komputer saja harus keluar keringat dingin, cuma bisa berjibaku dengan lumpur sawah,yang cuma bisa memerah berjuta keringat mengais puing-puing sampah plastik di jalanan, mengarungi ganasnya samudra mengais ikan, semua demi pendidikan anaknya...demi masa depan anaknya...demi cita-cita luhur membangun bangssa...demi sebuah harapan agar anaknya bisa merobah bangsa menuju rakyat adil makmur gemah ripah loh jinawi...dan.....segudang asa....
Ojo dumeh jadi dai atau mubaligh sehingga engkau berfatwa atau menasehati orang lain dengan nafsu pribadimu.Halal kau fatwakan haram dan haram engkau fatwakan halal. Orang yang tak sepaham dengan keyakinanmu engkau bantai, engkau rendahkan, engkau hina, engkau kafirkan,bahkan engkau binasakan. Engkau butakan matamu, engkau tulikan telingamu menerima nasehat atau petuah orang yang diluar pahammu padahal nasehatnya sesuai al-qur'an dan hadits sohih...
Ojo dumeh jadi pejabat sehingga engkau lupa daratan, bikin peraturan semaunya sendiri. Tak memikirkan kesusahan rakyat yang menjadi-jadi. Kelaparan, kemiskinan. Tak perduli banyaknya masyarakatmu yang belum dapat pekerjaan. Tak peduli banyaknya janda-janda yang masih butuh bantuan demi menghidupi anak-anak mereka. Tak peduli betapa banyak anak-anak yatim piatu yang perlu uluran tangan demi kelangsungan hidup dan pendidikan mereka. Tak peduli...tak peduli...tak peduli....jangan kau butakan matamu dan kau tulikan telingamu dengan kondisi kehidupan di masyarakatmu.Bangsamu. Negeri tumpah darahmu.
Ojo dumeh jadi presiden sehingga melupakan contoh agung yang pernah dilakukan Khalifah Sayyidina Umar ra bagaimana caranya menjadi pemimpin negara, yang rela memikul sekarung gandum demi menebus kelalaiannya dan rasa takut mempertanggung jawabkan kepemimpinannya kepada Alloh SWT di yaumil mahsyar dalam  memperhatikan salah satu rakyatnya, janda beserta anaknya... yang kelaparan...
Ojo dumeh jadi ibu sehingga engkau menuntut terlalu banyak terhadap amanah Alloh yang dititipkan padamu. Sumpah serapah adalah senjata menakuti anak-anakmu. Rasanya tidak pantas engkau perlakukan amanah-Nya seenak nafsu pribadimu. Bimbing mereka menemukan dirinya sendiri. Mengenal Tuhannya. Mengenal Rasulullah SAW sebagai manusia agung yang menuntun manusia menuju rahmatan lil alamin dan akhlak mulia.
Ojo dumeh jadi suami sehingga engkau perlakukan pendamping hidupmu semaunya sendiri. Sak enak udele dewe.Jangan gunakan dalil swargo nunut neroko katut. Itu pembodohan.Setiap manusia akan mempertanggung jawabkan salah dan dosanya sendiri di hadapan Alloh SWT. Pendamping hidup adalah mitra mencapai ridlo Alloh dalam membangun peradaban di mana saja. Mitra menjadikan amanah Alloh sebagai insan pilihan. Rahmatan lil 'alamin. Insan yang melanggengkan dan mengajak umat manusia kepada shirotol mustaqim. Jalan lurus. Jalan Tauhid. Mengesakan Alloh SWT sampai berakhirnya kehidupan di semesta.

Ojo dumeh dadi....
Ojo dumeh dadi...
Ojo dumeh dadi... apa saja...ya apa saja...apa saja...

Jadilah manusia yang mengerti asal usul, peradaban, kepribadian dimana tinggal, mengerti hikmah kehidupan, mengerti hikmah pergaulan, mengerti tatanan, mengerti adab, etika, moral,....dan nilai-nilai luhur masyarakat dan bangsa....

Manusia berwibawa, berkharisma dan terhormat tidak diukur dari besarnya harta yang dikumpulkannya, tidak dilihat dari tingginya jabatan yang disandang, tidak dilihat dari berapa gudang buku yang dimilikinya, tidak dilihat dari banyak dan gemebyarnya (glamour) baju yang dikenakannya, tidak dilihat dari rentengan gelar yang disandangnya...manusia  berkharisma, berwibawa dan terhormat karena kejujuran tutur kata...janji dan kenyataan terealisasi...nyata...terbukti, bisa andap ashor, bisa nguwongke manusia, bisa berempati terhadap penderitaan sesama, bisa menghargai perbedaan pendapat, bisa berbesar hati dengan keragaman budaya leluhur, bisa mengayomi orang yang memiliki keragaman agama, adat istiadat, pendidikan, budaya, dan berbagai keragaman, bisa berlaku adil, punya ketegasan sikap, bisa berbesar hati mengakui kesalahannya terhadap orang lain dan memaafkan kesalahan orang...dan...berbudi mulia....

Astaghfirullahalaziem...

Sesungguhnya kesempurnaan itu hanya milik Alloh SWT

januari 2011




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar