Kamis, 14 Juni 2012

BERBUAT AMAL SHOLEH JANGAN MENUNGGU DATANGNYA BULAN ROMADLON

       Hari ini kita sudah memasuki akhir bulan Rajab 1433 H. Dalam beberapa hari lagi, kita sudah memasuki bulan Sya'ban. Itu artinya tidak lama lagi kita akan kedatangan bulan yang agung. Bulan Mulia. Bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan Allah SWT yaitu bulan romadlon yang kedatangannya sangat ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin terutama orang-orang yang beriman. 
     Kemuliaan dan keistimewaan nilai ibadah yang dilakukan didalam bulan romadlon membuat kaum muslimin memiliki pengharapan yang besar untuk bisa menyambut dan mengisinya dengan perbuatan mulia. Sehingga tidak heran banyak diantara kaum muslimin sudah berancang-ancang ataupun menyusun rencana dan program dengan berbagai macam ibadah yang nanti akan dilakukan bila bulan ramadlon tiba. Ada sebagian kaum muslin yang sudah berencana akan membaca Al-qur'an minimal 1 juz dalam sehari, sehingga dalam bulan romadlon akan mengkhatamkan membaca al-qur'an; ada sebagian kaum muslimin yang sudah berencana akan bersedekah, baik berupa takjil ke masjid-masjid atau memberikan makanan kepada para tukang becak di jalan atau kepada para janda miskin atau para fakir miskin bila bulan romadlon tiba; selain itu ada juga sebagian kaum muslimin yang sudah berjanji : "Pokoknya, mas! Bila bulan romadlon tiba, aku akan berhenti berbuat maksiat dan dosa. Aku akan mengisi hari-hari bulan romadlon dengan kalimat istighfar. Aku akan bertobat. Aku akan mengganti perbuatan jelek dengan perbuatan mulia dan amal soleh."
        Memang tidak salah setiap manusia memiliki rencana dalam menjalani kehidupan, apalagi ingin berbuat baik dan amal soleh terutama dalam bulan ramadlon. Nilai amal sholeh di bulan romadlon akan dilipatgandakan nilainya oleh Allah swt. Namun selaku umat beriman, "tidak pantas" apabila kita menunda-nunda bila ingin berbuat kebaikan apalagi yang menyangkut amal sholeh.  Sebab Allah Swt berkali-kali menyindir dan mengingatkan kita sebagimana yang tercantum dalam Al-qur'an Surat An-Nahl ayat 61 : "Faidzaa jaa'a ajalulum laa yasta'khiruuna sa'atan wala yastaqdimuuna ( artinya : maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya).
        Kalau umur kita sudah sampai waktunya maka tidak seorangpun yang bisa engundurkannya, sebab umur adalah rahasia Allah swt. Tidak seorang pun yang bisa memastikan kapan ajalnya tiba. Oleh karena itu, siapa yang bisa menjamin kita bisa bertemu dengan bulan romadlon tahun ini, kok berani-beraninya menunda bertaubat, menunda berbuat kebajikan, menunda membaca, mendalami dan memahami ayat-ayat al-qur'an hingga nanti saat bulan romadlon tiba. Bahkan Alloh swt sendiri memperjelas larangan menunda-nunda berbuat amal sholeh seperti dalam firman-Nya pada Qur-an surat al-munafiquun ayat 11 : "Walan yuakhkhirallohu nafsan 'idzaajaa'a ajaluha wallohu khobirumbimaa ta'maluuna (artinya : Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya).
Jadi jelas sekali bahwa kita dilarang meremehkan atau menyia-nyiakan arti umur ini. Manfaatkan waktu yang ada sekarang untuk berbuat amal sholeh. Jangan berusaha menunda-nundanya karena kita tidak tahu kapan ajal kita tiba.
       Oleh karena itu, apakah pantas selaku orang beriman tetapi akan melakukan perbuatan baik dan mulia masih menunggu bulan romadlon tiba ? Apakah pantas selaku orang beriman yang sudah bergelimang dengan maksiat dan dosa tetapi berniat akan berhenti melakukan perbuatan maksiat dan dosa masih menunggu bulan romadlon tiba ? Apakah pantas selaku orang beriman yang memiliki pedoman hidup berupa kitab suci Al-qur'an tetapi akan membaca dan mendalami isinya tetapi masih menunggu saat bulan  romadlon tiba ?
        Seorang sahabat bernama Abdullah bin Umar ra pernah memberi nasehat : "Idzaa'amsaita fala tantadhliri shobaakha (= jika umurmu mencapai malam hari maka jangan menanti pagi hari) "Wa'idzaa'abakhta fala tanta dhlirilamasa'a (= dan jika umurmu mencapai pagi hari, maka jangan menanti malam hari) (Al-Bukhari no. 5937).
         Sikap seorang mukmin yang tidak mau menunda berbuat kebaikan pernah dicontohkan oleh seorang khalifah Umar bin Abdul Aziz 
     Suatu hari seusai menguburkan khalifah Sulaiman bin Malik, Khalifah Umar bin Abdul Aziz merebahkan diri beristirahat. Tetapi baru saja ia merebahkan badannya, seorang pemuda berusia tujuh belas tahun datang menghampirinya dan berkata : "Apa yang ingin engkau lakukan wahai Amirul Mukminin ?"
 Kemudian Khalifah Umar menjawab : Biarkan aku tidur barang sejenak. Aku sangat lelah dan capai sehingga nyaris tidak ada kekuatan yang tersisa." 
Namun pemuda itu nampak tidak puas dengan jawaban Khalifah Umar tersebut, lalu ia berkata : "Apakah engkau akan tidur sebelum mengembakikan barang yang diambil paksa kepada pemiliknya wahai Amirul Mukminin ?"
Kemudian khalifah Umar mengatakan : "Jika tiba waktu Dzuhur, saya bersama orang-orang akan mengembalikan barang-barang tersebut kepada pemiliknya." 
Namun jawaban Khalifah Umar tersebut semakin membuat si pemuda geram, lalu ia berkata : "Siapa yang menjamin hidup sampai setelah dzuhur, wahai amirul mukminin ?"
          Sungguh suatu kalimat yang  pendek dan berbobot yang diucapkan  oleh seseorang yang memiliki keimanan dan keyakinan kuat tentang hakekat kematian yang terkandung dalam Al-qur'an mampu mengguncangkan hati Khalifah Umar bin Khattab yang akan berbuat khilaf. Seketika itu juga Khalifah Umar mengurungkan niat beristirahat dan secepatnya menyelesaikan urusannya yang belum diselesaikannya hari itu juga.
         Perlu diketahui bahwa sang pemuda itu bernama Abdul Aziz. Ia adalah putera Amirul Mukminin sendiri. Seorang pemuda yang memiliki karakter keimanan yang kuat sehingga tiada gentar meluruskan seorang pemimpin sekaliber Umar bin Khattab yang akan berbuat khilaf kepada rakyatnya.
        Maka alangkah beruntungnya suatu negeri yang memiliki pemimpin yang mampu meneladani kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Jabatan baginya adalah amanah Allah swt. Beliau tidak mau memanfaatkan jabatannya demi kepentingan pribadi. Meskipun beliau seorang  pemimpin namun beliau tidak segan-segan mengakui kekhilafannya walau yang menegorkan masih berusia belia.
         Untuk itu marilah kita kaum mukminin berusaha untuk menghindari sikap menunda-nunda dalam meningkatkan keimanan dan taqwa. Jangan menunda berbuat baik dan amal sholeh. Jangan menunda membaca, mengkaji dan mendalami kandungan Al-qur'an. Jangan menunda untuk segera meraih ampunan Allah swt. Tidak usah menunggu nanti saat bulan romadlon tiba. Mumpung kita masih dikaruniai tambahan umur marilah kita memanfaatkan sisa umur kita ini dengan mempersembahkan amal sholeh yang terbaik disisi Allah  Swt.
       
Sumenep, 14 Juni 2012

    
       

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar